dr. Iman Hilmansyah

dr. Iman Hilmansyah

Setahun berjalannya pandemi Covid-9, kita sudah mulai beradaptasi dengan the new normal atau normal yang baru. Kegiatan yang melibatkan banyak orang seperti resepsi pernikahan, perkumpulan ibadah, perkantoran, atau kegiatan olahraga sudah mulai diperbolehkan dengan kondisi khusus.

Beberapa laki-laki terpaksa harus kembali melakukan proses khitan karena terjadi gagal sunat. Bagi sebagian orang—baik anak-anak maupun usia dewasa sekalipun—hal tersebut dapat menjadi pengalaman yang traumatis.

Bahaya suntik silikon pada pria dewasa sebenarnya sudah sangat jelas. Namun, masih banyak orang yang melakukannya hanya karena ingin mengubah tampilan fisik mereka. Sebagian orang masih beranggapan bahwa kepuasan seksual sangat tergantung dengan ukuran penis. Makin besar ukuran penis akan makin terpuaskan hubungan seksualnya. Padahal kepuasan hubungan seksual bukan semata-mata dipengaruhi oleh ukuran penis semata, malah lebih sering dipengaruhi oleh faktor psikologis dari antara antara si pria dan pasangannya.

Pada zaman dahulu, anak biasanya dilarang memakai celana dalam setelah disunat. Karena dikhawatirkan, mengenakan celana dalam akan menggesek luka jahitan sunat dan malah membuatnya jadi susah kering. Namun, kini Ayah Bunda tidak perlu repot sebab sudah ada yang namanya celana sunat. Pemakaiannya juga seperti celana dalam biasa lho. Sangat praktis, bukan?

Sunat adalah salah satu tindakan medis dengan cara memotong sebagian kulit yang berada pada ujung kepala penis. Tak hanya pada orang dewasa dan anak-anak, sunat atau sirkumsisi juga bisa dilakukan terhadap bayi.

Berapa usia sunat bayi yang paling tepat? Ayah Bunda yang ingin menyunatkan anak saat masih bayi sebaiknya mengetahui hal ini terlebih dahulu. Tujuannya supaya proses pembedahan dapat berlangsung dengan lancar sesuai kondisi bayi.

Sunat identik dengan anak laki-laki yang beragama Islam. Namun, tak sedikit pula laki-laki yang akhirnya melakukan khitan ketika usianya telah menginjak remaja dan bahkan dewasa. Alasannya pun seragam, seperti baru saja menjadi muslim (mualaf), budaya, atau murni karena alasan kesehatan.

Sebagai seorang Muslim, anak laki-laki diwajibkan untuk menjalani sunat agar ibadahnya lebih sempurna. Selain itu, kebersihan kemaluan juga bisa terjaga dengan baik. Sayangnya, tidak semua anak bisa menjalankan sunat dengan baik. Apalagi, mereka mengalami kegemukan atau obesitas.

Masyarakat Indonesia cukup banyak yang terbiasa menyunatkan anak saat masih berusia balita. World Health Organization (WHO) juga menyarankan kepada para orang tua untuk menyunat anak ketika masih berusia balita. Kebiasaan sunat pada usia balita seperti ini, cukup banyak dilakukan oleh masyarakat Kota Medan.

Wabah coronavirus disease 2019 (COVID-19) menimbulkan ketakutan besar di kalangan masyarakat awam. Bahkan, rasa takut tersebut sering muncul secara ekstrem. Akibatnya, orang yang tengah batuk, bersin, atau demam kerap diasosiasikan dengan virus corona. Kondisi seperti itu terjadi karena ketidaktahuan masyarakat dalam membedakan gejala infeksi virus corona dengan flu biasa.

Page 2 of 5

Artikel Kesehatan

Serba - Serbi