Identifikasi Stunting pada Bayi, Berikut Panduan untuk Orang Tua Featured

Artikel Kesehatan Wednesday, 09 October 2024 06:17
Rate this item
(0 votes)
Identifikasi Stunting pada Bayi Identifikasi Stunting pada Bayi

Stunting adalah masalah serius yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Ini merupakan kondisi di mana seorang anak memiliki tinggi badan yang lebih rendah daripada standar usianya, yang biasanya disebabkan oleh kekurangan gizi kronis.

Untuk mengenali ciri stunting pada bayi, orang tua perlu memerhatikan beberapa hal seperti tinggi badan, berat badan, perkembangan motorik, dan rupa fisik. Berikut ini panduan untuk orang tua cara mengidentifikasi stunting dan pencegahan stunting pada bayi.

Apa Itu Stunting

Stunting merupakan kondisi yang mengakibatkan terganggunya tumbuh kembang anak karena kekurangan gizi kronis. Kurangnya nutrisi bahkan saat bayi masih berada di dalam kandungan dapat memicu kondisi stunting pada anak.

Anak yang mengalami stunting memiliki tinggi badan yang lebih pendek atau sangat pendek dibandingkan anak seusianya. Kondisi tubuh pendek ini tentu tidak berhubungan dengan faktor genetika. Gejala stunting sudah bisa dilihat saat anak memasuki usia dua tahun.

 Identifikasi Stunting pada Bayi

Agar orang tua tidak terlambat mengenali kondisi ini, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dampak jangka panjang pada bayi. Berikut ini beberapa cara diagnosis dini stunting pada bayi:

Pengukuran tinggi badan berdasarkan usia

Mengukur tinggi atau panjang bayi merupakan cara yang utama. Pengukuran panjang bayi harus menggunakan alat ukur yang tepat, seperti infantometer untuk bayi yang belum bisa berdiri dan stadiometer untuk bayi yang sudah bisa berdiri.

Apabila panjang atau tinggi badan bayi di bawah 2 standar deviasi (SD) dari standar pertumbuhan anak menurut WHO, maka bisa berisiko stunting.

Konsultasi dengan Tenaga Medis

Memeriksakan bayi secara rutin mulai dari bayi baru lahir ke dokter anak, posyandu, atau puskesmas penting dalam pencegahan stunting pada bayi. Orang tua harus memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk memantau tumbuh kembang anak.

KMS ini berisi kurva yang menujukkan pertumbuhan bayi, mulai dari panjang badan, berat badan, serta lingkar kepala. Apabila kurva tinggi badan berada di bawah garis merah, maka orang tua harus waspada karena bayi berisiko stunting.

Konsultasi dengan tenaga medis sebaiknya dilakukan setiap bulan untuk bayi 0 sampai 12 bulan dan tiga bulan sekali untuk anak usia 1 hingga 3 tahun. Sedangkan untuk anak usia 3 hingga 6 tahun bisa berkonsultasi setidaknya 6 bulan sekali.

Mengamati asupan nutrisi dan lingkungan

Seribu hari pertama bayi, dimulai sejak bayi dalam kandungan, merupakan periode emas. Karena itu, asupan ibu hamil juga perlu diperhatikan. Anak yang mengalami stunting disebabkan kurangnya asupan gizi seperti vitamin A, zinc, zat besi, dan yodium.

Senantiasa menerapkan perilaku hidup sehat juga diperlukan untuk mencegah terjadinya stunting. Memperbaiki sanitasi tidak kalah penting. Faktor air bersih dan sanitasi menjadi salah satu poin penting untuk mencegah stunting pada anak.

Riwayat penyakit

Diagnosis dini stunting pada bayi selanjutnya adalah mewaspadai gejala penyakit yang muncul pada anak. Penyakit seperti demam atau diare berulang, sulit menyusu, batuk lebih dari 2 minggu, dan sesak napas bisa menjadi pemicu stunting.

Itu tadi cara mengenali ciri stunting pada bayi serta diagnosis dini stunting pada bayi. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan pemberian MPASI yang bernutrisi dapat membantu menurunkan risiko stunting.

Selain itu, jangan lupa untuk memeriksakan bayi ke dokter anak atau bidan setiap bulannya guna memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Konsultasi setiap bulan juga bertujuan untuk imunisasi agar bayi tidak mudah terinfeksi virus.

Artikel Kesehatan

Serba - Serbi